Make your own free website on Tripod.com
ARTIKEL

 Ancaman Sensor dari Masa ke Masa


(INDONESIA) Pada tahun 1993 tepatnya dibulan Oktober pada masa pemerintahan Soeharto, Menteri Sekretaris Negara Moerdiono, menegaskan bahwa tidak akan ada lagi larangan pementasan teater. Padahal, sejak tahun 1968, sudah terjadi tidak kurang dari enam kali pelarangan pentas teater, dua kali pelarangan pentas tari, tiga kali pelarangan pembacaan puisi, dan dua kali pelarangan pameran seni rupa di Indonesia. Belum lagi terhitung pemberangusan karya sastra. Namun, sebenarnya, lembaga sensor, khususnya terhadap karya seni, sudah dikenal diseluruh belahan bumi sejak berabad-abad sebelum masehi. Dalam satu kurun, penyensoran terhadap karya seni sah-sah saja dalam jagad agama-agama besar di dunia. Sedangkan di Studio Hollywood, Amerika Serikat, sudah ada kode etik tersendiri untuk menangkis jamahan lembaga sensor terhadap perfilman dan "seni lakon". Majalah Forum Keadilan: Nomor 16, tahun II, 25 November 1993, hal. 40-44. Pernah mengulas topik sensor seni dalam salah satu rubriknya. Berikut adalah ulasan tersebut; Klik di sini.


 Komentar para Ahli, Seputar Seni dan Pornografi


Wanita cantik adalah keindahan paling sempurna. Maka, ketika gadis-gadis Bali belum menutup dadanya, mereka menjadi rebutan para pelukis untuk diangkat ke atas kanvas. Namun, ketika gadis-gadis itu tampil lebih beradab (dengan menutup bagian dadanya) banyak pelukis justru merasa kehilangan. Memang terasa aneh, keberadaban gadis-gadis Bali justru diterima sebagai kehilangan dan bukan kemajuan. Seni dan keindahan sering dijadikan tameng untuk membela karya-karya yang mengeksploitasi seks dan pornografi. Berikut adalah ulasan para pakar tentang seni dan pornografi; Klik di sini.

 Wanita di Layar Kaca

Antara Obyek dan "Kelas Dua"

"TELEVISI, juga dipenuhi oleh iklan yang turut memperkuat kepercayaan sistem Gender".Beberapa waktu yang lalu tepatnya pertengahan tahun 1993 atas desakan pemirsa, RTCI sempat mencekal iklan produk sabun wanita. Karena, iklan tersebut dianggap mempertontonkan bagian tertentu tubuh wanita. Padahal, sebenarnya hanya lutut yang di Shot sedemikian rupa sehingga memberi kesan seperti pantat bugil. Artikel ini pernah di ulas dalam koran "REPUBLIKA" terbitan 22 Agustus 1993. Berikut adalah ulasan tersebut; Klik di sini.

 Citra Wanita dalam Iklam

Masih Seputar Rumah dan Objek Seks

Seminar tentang wanita yang pernah digelar di Malaysia tepatnya bulan September 1992 lalu, menyimpulkan bahwa citra wanita dalam media massa di Asia masih stereotip. Di satu sisi, wanita dilukiskan sebagai ibu rumah tangga, pengasuh, dan bergantung pada pria, di sisi lain ditampilkan sebagai objek seks. Pendek kata, menurut para pengamat, wanita Asia masih cenderung dijadikan bumbu penyedap bagi apa-apa saja yang ditampilkan dalam media massa, terutama kepentingan iklan. Berikut adalah ulasan tersebut; Klik di sini.