Make your own free website on Tripod.com
Perbandingan

Pada bagian ini memberikan gambaran antara budaya primitif dan budaya modern, lalu mengomentari kedua budaya tersebut.
Perlu Anda ketahui bahwa defenisi klasik kebudayaan Sir Edward Tylor(1871,Vol.1, hal.1), menyebut "Kebudayaan adalah kompleks keseluruhan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan semua kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh oleh masyarakat.
Dari defenisi tersebut dapat disingkat bahwa kebudayaan adalah segala sesuatu yang dipelajari dan dihayati oleh seluruh anggota masyarakatnya.

INDEKS

 Peradaban Primitif


Kehidupan Primitif di Indonesia


Primitif, kata ini biasa diartikan bersahaja dan amat sederhana. Karena itu kalau dikatakan suku primitif, maka yang dimaksud adalah suatu kelompok manusia yang keadaan hidupnya bersahaja, amat sederhana, terisolasi (terasing). Demikian bersahaja dan sederhananya , suku primitif amat jauh dari sentuhan pendidikan dan teknologi.
Gambar ini merupakan sekelompok suku Dayak Basap di Kalimantan Timur yang merupakan manusia penghuni gua. Suku yang masih hidup dalam kebudayaan zaman batu itu adalah satu dari 16 suku Dayak yang berdiam di Kalimantan Timur, tepatnya di desa Teluk Sumbang pantai Berau Kecamatan Biduk-Biduk. Hidup mereka jelas masih sangat terkebelakang, mereka menutupi sebagian kulit tubuhnya dengan kulit kayu.
Sesuai hasil survei Depsos tahun 1992 untuk Program Pembinaan Masyarakat Terasing di Kalimantan Timur rata-rata membutuhkan dana sebesar Rp. 100.000.000,- per-tahun.

Kemudian pada gambar ke-2 beberapa pria dan wanita Iban sedang menari sambil menenteng kepala manusia. Dari segi agama dan upacara diyakini bahwa orang Iban di Kalimantan Barat dan Serawak berusaha memasyarakatkan kepala dengan memperlakukannya secara baik dan ramah.

Gambar berikutnya memperlihatkan kecantikan wanita suku Musang yang bermukim dekat dengan anak sungai Iwan, anak sungai yang terletak disebelah kiri sungai Kayan Kalimantan.
Gambar-gambar tersebut merupakan fenomena sejarah budaya masa lalu yang tentunya sekarang mereka sudah banyak berubah dan meninggalkan cara-cara hidup dengan tanpa busana.




Gambar ini di kutip dari majalah TEMPO, terbitan 28 Nov 1992. Hal. 106-108


Gambar ini di kutip dari Ensiklopedi INDONESIA HERITAGE (Agama & Upacara) hal.102, dan (Manusia & Lingkungan) hal.76. terbitan tahun 2002.

Kembali ke Atas.
 Peradaban Primitif

Pada gambar ini, nampak dua orang wanita Afar di Afrika yang masih bertelanjang dada, mereka menggembalakan ternaknya dipadang rumput dan pegunungan biru yang subur. Hidup mereka masih nomadic dan berkelompok-kelompok.
Walaupun demikian mereka juga telah banyak berubah, sejak tahun 1983 suku pedalaman di Afrika ini mendapat perhatian yang serius oleh salah satu organisasi kesehatan Medical Missionaries of Mary, yang memberikan bimbingan kesehatan dan pendidikan kepada masyarakat terkebelakang.
Suku-suku terasing yang telah mendapatkan pendidikan tersebut sudah mulai mengerti kesehatan dan berpakaian.
Dan sebahagian dari mereka juga telah bersosialisasi dengan masyarakat Afrika yang hidup lebih maju (hidup di perkotaan), mereka sudah meninggalkan tradisi bertelanjang dada yang turun temurun.



Sumber, majalah
Naational Geographic,
Mey 1983. Terbitan
Washington D.C.
Halaman 621.

Kembali ke Atas. 

 Peradaban Modern


Modern, mungkin merupakan kata yang dapat dikonotasikan dengan kehidupan serba elektronik, gedung pencakar langit, pabrik dan industri besar, serta gaya hidup materialis atau singkatnya serba terbaru.
Kehidupan modern diakui sangat membantu kemudahan kehidupan manusia, namun disisi lain ia dapat saja merusak cara hidup dan cara pandangan seseorang. Lihat saja misalnya, Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat berbudaya, beragama, sopan santun yang telah diwariskan sejak diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia tahun 1945 hingga tahun 2000. Kemajuan Indonesia terasa disegala bidang sejak kepresidenan H. Moh. Soeharto. Bersamaan dengan kemajuan yang dicapai, Masyarakat Indonesia mengalami perubahan pola hidup dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat maju dan berkembang. Sangat kita sayangkan bahwa kemajuan yang telah diraih membawa noda hitam bagi kehidupan moral remaja di Indonesia, utamanya cara berpakaian. Sebagian besar remaja wanita Indonesia yang hidup di perkotaan cenderung berpakaian terbuka dan ketat dan cara berpakaian seperti ini sangat besar pengaruhnya sampai ke daerah lain di Indonesia. Tentu salah jika kita menuduh orang tua menyuruh anaknya berpakaian seperti itu. Bahwa hal tersebut dilakukan oleh kebanyakan remaja wanita dengan alasan berfariasi, diantaranya ; agar kelihatan modern, hanya coba-coba, ikut teman, mode, dan celakanya ada yang tidak tau alasan memakainya.

Coba Perhatikan, kedua gambar disebelah kanan. Gambar tersebut merupakan model yang dijanjikan oleh produk peradaban modern kepada remaja wanita Indonesia. Kita tidak menyalahkan Ke-moderenan tersebut namun pelaku-pelaku kemoderenan di Indonesia cenderung kearah hidup primitif ketimbang hidup kemoderenan itu sendiri.
Hidup modern tidak boleh diidentikkan dengan ketelanjangan, sebab hidup modern adalah kehidupan yang sudah maju disegala bidang. Kedua gambar ini menunjukkan cara berpakaian primitif dalam kehidupan modern yang tidak diajarkan di bangku-bangku kuliah dan hanya ditemukan dikalangan orang-orang yang tidak berfikir dan kebanyakan terkait dengan kegiatan dunia yang hura-hura sehingga rasa memiliki tanggung jawab moral terlupakan/hilang pada diri mereka.
Dibawah ini salah satu adengan gambar dalam Film "Bring It On"


(Atas): adalah model yang
ditampilkan pada setiap
kegiatan World Superbike
Championship
yang diseleng-
garakan oleh negara-
negara: Australia, Italy, Belanda,
Jepang, Jerman, USA, Austria,
Spain. Pemandangan seperti
ini tidak asing lagi
bagi kehidupan modern
di Barat sejak tahun 1988.
(Bawah): Beberapa adengan
cuplikan dalam Film:
"Bring It On" tentang kehidupan
muda mudi yang cenderung
berkostum ketelanjangan,
walaupun ceritanya-
bukan tema ketelanjangan
bagaimana tanggapan Anda
dengan gambar di bawah ini?



Kembali ke Atas. 

 Komentar

Perlukah manusia modern menggembar-gemborkan kehidupan Nudis (telanjang)...?

Kalau kita bandingkan kehidupan manusia primitif dengan manusia modern, tentu sangat jauh perbedaannya. Walaupun kita hidup pada zaman yang sama dengan mereka, yang membedakan bahwa hidup primitif dan hidup modern tergantung letak daerah geografis dan budaya setempat.
Yang menjadi fokus kita kali ini adalah ketelanjangan antara manusia primitif dan manusia modern. Pada suku Dayak Basap di Kalimantan dan kehidupan wanita Afar di Afrika misalnya, ketelanjangan tidak dikategorikan sebagai melanggar moral, asusila, agama atau adat, karena mereka telah terkondisikan dengan lingkungan serta berbagai faktor yang tidak memungkinkan untuk maju dan berkembang.
Mereka belum terjamah dengan dunia ilmu pengetahuan, teknologi dan agama besar dunia. Itulah sebabnya, mereka pria maupun wanitanya juga tak canggung bertelanjang dada.

Perlu diketahui bahwa sebelum tahun 1992 sudah banyak diantara suku Dayak Basap ini turun gunung dan mencoba bersosialisasi dengan masyarakat yang lebih maju, bahkan ada yang telah menyekolahkan anak-anaknya. Suku Dayak Basap yang telah tersentuh kehidupan pendidikan baik agama, moral dan etika tentunya tidak memungkingkan lagi baginya hidup bertelanjang dada.

Timbul pertanyaan. Pantaskah manusia modern membuka jalan kearah kehidupan telanjang...?
Jawabnya; Jelas bukan persoalan pantas atau tidak pantasnya. Persoalannya bahwa kita telah terlanjur memiliki agama yang kuat, budaya, hukum, moral, etik, pendidikan dan lainnya, yang mempunyai garis batas yang tidak dapat dilanggar. Nah..., karena kita telah memilikinya maka untuk hidup telanjang tentu akan menjadi persoalan yang tergolong spektakuler di Indonesia.
Apa alasan kita sehingga ingin hidup telanjang...?


"Cobalah"
Anda bandingkan ke dua gambar di bawah ini:
dengan tidak mengabaikan sisi kemajuan agama, budaya, pendidikan, teknologi, dan kesehatan



Gambar telanjang di zaman purba dan telanjang di zaman modern.

Kembali ke Atas.