Make your own free website on Tripod.com
Miss Universe
Marjorie Judith Vincent


Kontes Miss America :
Dikecam tapi Ditonton


Aktris Cynthia Sikes adalah Miss Kansas tahun 1972 dan sempat menyandang juri terkenal sejak tahun 1990-an. Sakes melihat kebanyakan kontes lain sebagai "lebih banyak miripnya dengan Hollywood. Gadis-gadis lebih merupakan sasaran seks. Dalam Miss Amerika, para wanita seperti gadis tetangga saja, pawai kecantikan bukan kecerdikan, ia mempunyai semacam mutu amatiran".
Hal yang diungkapkan Sikes memang ada benarnya. Kegemparan terjadi pada tahun 1988, ketika foto-foto Miss Vanessa Williams yang "eksklusif" terbongkar, dan dinyatakan peristiwa paling terburuk dalam sejarah Miss-Missan. Namun tahun 1990 telah mendapat perhatian besar dari para penyelenggara untuk memperbaiki citra kontes tersebut dengan penilai dititik beratkan pada kepandaian, kecakapan atau yang lebih rasional.
Pada mulanya kontes ini diselenggarakan di Amerika pada tahun 1921, direncanakan sebagai satu cara memperpanjang musim panas wisata untuk kota Atlantik, pamer kecantikan itu sama sekali merupakan satu kontes pakaian mandi selama bertahun-tahun. Pada gambar.1, Miss Amerika tahun 1991: Marjorie Judith Vincent, adalah gadis Illionis berdarah Haiti, dinobatkan sebagai Ratu Amerika di Atlantic City. Marjorie adalah satu-satunya wanita berkulit hitam dari 15 kontestan. Sedang pendahulunya, Debbie Turner (nampak dibelakang) juga berkulit hitam.

Pada tahun yang sama (1990) Miss Unisovyet, meluangkan waktunya untuk menyampaikan ucapan selamat Hari Natal kepada para pelaut Inggeris yang ditempatkan di kawasan Teluk (lihat gambar.2).

Pada tahun 1992, juga digelar lomba Ratu Sejagat di Thailand. Sambil mengenakan pakaian renang para ratu sejagat bergaya di pantai Pattaya, kawasan wisata terkenal di Thailand. Ratu sejagat tersebut di antaranya; Ratu Cekoslowakia (Michasela Malacova), Ratu Australia (Georgina Denahy), Ratu Kolombia (Paola Turbay), Ratu Selandia Baru (Liza De Montalk) dan Ratu Dominika Liza Gonzales.

Gambar.1 dikutip dari MEDIA INDONESIA, Selasa 11 September 1990, hal. 12, pada gambar.2 dikutip dari media FAJAR, Senin 22 Juni 1992, hal VIII.




Gambar.1



Gambar.2

Irma Hadisurya


Ratu Indonesia Pertama


Berbicara tentang ratu-ratuan di Indonesia, tentu tak terlepas dengan sosok "DEWI MOTIK". Ia banyak berperan serta dalam membangun dan menumbuh suburkan kontes ratu-ratuan tersebut. Pertama kalinya ia mempunyai ide pemilihan "Ratu Ayu", dimana ratu yang bukan hanya paham soal jamu-jamuan tradisional tapi juga mengerti delapan Gatra; ekonomi, politik, budaya, bangsa dan pembangunan. Ide yang dilontarkannya tanpa kekuatan dana ini akhirnya berhasil dengan menghimpun pengusaha yang tergabung dalam IWAPI. Maka jadilah jalinan kerjasama dengan pengusaha-pengusaha jamu. Penyelenggaraan perdana pun digelar dengan 68 peserta, kegiatan tersebut berlangsung tiap tahunnya tanpa pernah terputus. Agar dari segi intelektual dan pendidikan si'Ratu bisa dipertanggung jawabkan maka pesertanya dipilih dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Karena setiap tahun Ratu AYU memperebutkan piala Ibu "Tien" (Isteri presiden ke dua RI Soeharto), maka setiap tahun pula Dewi Motik membawa sang juara untuk diperkenalkan pada Ibu Negara. Sampai kali kesebelas saat giliran "Elisia Yansen Lambung" si'ratu' Ayu 1991 dibawa menghadap Ibu Negara. Ibu Tien nampak bangga pada kaum muda yang ternyata cukup cantik tapi juga pandai. Terasa Dewi Motik mendapat angin segar, dari sini mula keberanian membawa gadis Indonesia ke forum Internasional.
Soal pro dan kontra Dewi Motik (yang juga pernah menyandang Top Model RATU LUWES) bisa memaklumi, ia menilai wajar. Sekarang tinggal melihat dari sudut mana kita akan menilai. Dewi Motik melihat, bahwa mempromosikan bangsa dan negara adalah suatu kewajiban bagi setiap warna negara yang baik, selain merupakan ibadah. Ia menilai generasi muda sekarang jauh lebih pintar, cantik, keren, berwawasan luas. Itulah impiannya, suatu waktu wanita Indonesia akan menjadi tokoh Internasional yang betul-betul dikagumi.
Nah. Bagaimana pula dengan komentar "Irma Hadisurya" tentang kontes-kontesan ini?..... "Irma Hadisurya" berpendapat bahwa sebenarnya apa yang dilakukan seorang ratu sama halnya dengan tugas seorang PR, yaitu membentuk citra bagaimana ia mengembang tugas sebagai seorang wanita Indonesia. "Irma Hadisurya" pernah menjadi Ratu Jawa Barat tahun 1969. Seminggu kemudian ia menjadi Miss Indonesia dan beberapa hari kemudian diutus mengikuti Miss Internasional di Tokyo, Jepang. Tahun 1970 ia berhasil menjadi Miss Friendship pada kontes Miss Asia. Menurut "Irma Hadisurya" bukankan nantinya yang ikut kontes akan membawa nama baik bangsa dan negara, bukan hanya sekedar promosi pariwisata tapi juga membentuk image wanita Indonesia yang memikat. Untuk itu yang diandalkan bukan cuma sekedar kecantikan dan kemampuan senyum kepada yuri tapi juga isi kualitas kepala, tuturnya lugas. "Irma Hadisurya" menambahkan "Yah susah memang kalau masyarakat hanya menilai bahwa ratu itu berpakaian minim, padahal hanya memakai pakaian renang yang saya rasa modelnya begitu simpel dan tak ada bikini.

Gambar di samping, adalah Irma Hadisurya sebagai Ratu Indonesia pertama di tahun 1969. Dikutip dari tabloid "Wanita Indonesia" No. 117/III/Minggu II/November 1991.





Alya Rohali


Karena ALYA Berswimsuit Ria


Meneg UPW perintahkan
Pengiriman ratu-ratuan ke-
luar negeri dihentikan.
Mooryati berdalih peraturan
yang ada tak jelas
.

Senyum manis Alya Rohali mengembang ketika juru photo membidikkan kamera. Disebelah kiri dan kanannya dengan senyum yang tak kalah menarik, berpose Miss Thailand "Nirachala Kumya" dan Miss Filipina "Aileen Damiles", di bulan Mei tahun 1996 lalu. Keesokan harinya, photo yang dilansir oleh kantor berita AFP itu muncul di berbagai media cetak terbitan Indonesia. Dan...geger.Bukan senyum mahasiswi Trisakti tersebut yang bikit ribut, tapi pakaian yang dikenakannya itu yang jadi persoalan. Putri Indonesia 1996 versi Yayasan Putri Indonesia (YPI) pimpinan Mooryati Soedibyo, seperti dua putri lainnya tampil dalam pakaian renang dengan selempang tulisan "Indonesia" di dadanya. Hal ini kemudian membuat berang Meneg UPW Ny. Mien Soegandhi waktu itu. Lha katanya cuma peninjau, mengapa mesti tampil begitu?. Itu kan namanya membohongi. Wong katanya peninjau kok akhirnya jadi peserta,"kata Ny. Mien kepada wartawan. Sejak itulah Meneg UPW menyatakan penghentian pengiriman putri Indonesia ke kontes ratu-ratuan tingkat dunia. Celakanya lagi bahwa kebetulan saat itu suasana duka dirasakan bangsa Indonesia atas meninggalnya Ibu Tien Soeharto (isteri Presiden RI Soeharto). Ibu Negara memang termasuk yang tidak setuju dengan adanya kontes ratu-ratuan yang disertai pamer bentuk tubuh yang harusnya ditutup.
Buntutnya lagi, berbagai kecaman kemudian bermunculan, seperti adanya sejumlah mahasiswa yang melakukan aksi unjukrasa dan minta bertemu dengan Ny. Mien, Anggota Komisi I DPR dari FPP Ny. Aisyah Aminy termasuk yang bersuara keras saat itu. Alasannya serupa bahwa kontes tersebut tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, budaya dan agama. Kalau dari segi bisnis cocok saja bagi yang bersangkutan. Apalagi kepergian Alya yang semula dengan dalih sebagai peninjau, kemudian berubah menjadi peserta aktif. "Ia tak menyadari telah mempermalukan harkat dan martabatnya sebagai wanita," katanya. Tindakan tersebut dinilai melanggar Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0237/U/1984 tertanggal 28 Mei 1984. Akibat pelanggaran itu Meneg UPW memanggil orang yang paling bertanggung jawab tentu saja Mooryati Soedibyo selaku Ketua Umum YPI.
Keputusan pemerintah tersebut kemudian memunculkan keheranan seorang budayawan Betawi "Ridwan Saidi". Ia melihat ada ketidak konsistenan sikap dan ketidak jujuran dalam kasus ini. Menurutnya kalau pemerintah mau konsisten terhadap larangan itu, banyak kegiatan-kegiatan lain yang seharusnya juga dilarang seperti bola volley pantai wanita dan renang wanita misalnya. Kata budayawan ini tanpa bermaksud membela kontes ratu-ratuan. Aktris "Titie DJ yang juga pernah mengikuti Miss World tahun 1983 juga mencoba mendudukkan persoalan pada proporsi sebenarnya. Terutama soal ukur mengukur organ vital yang dipersoalkan. Menurutnya, ukuran tersebut diperlukan sekedar untuk mengepaskan pakaian yang akan dikenakan. Penuturan Titie DJ ini dibenarkan oleh Alya yang menjadi lakon cerita. Berdasarkan pengalamannya mengikuti kontes Miss Universe, di luar pose dalam pakaian renang hampir semua kegiatan yang diikutinya normal-normal saja bahkan sangat positif, saya malah punya kesempatan untuk mempromosikan Indonesia di forum internasional, lanjutnya.

Dikutip dari surat kabar "REPUBLIKA" terbitan Senin, 27 Mei 1996.